/5 Passive Income Untuk Fotografer Yang Bisa Mendatangkan Uang
trans maldivian airways

5 Passive Income Untuk Fotografer Yang Bisa Mendatangkan Uang

Jika anda mulai tertarik untuk memiliki passive income di sela-sela kesibukan anda sebagai fotografer pernikahan maka semoga tulisan saya kali ini bisa menginspirasi anda semua. Salam kenal nama saya Bima Adhitya dan saya adalah salah satu penulis aktif di blog JWP Official ini.

View this post on Instagram

BEST!

A post shared by Bima Adhitya | Photographer (@bimaadhitya) on

Menjalankan aktivitas memotret khususnya di dunia foto pernikahan sudah menjadi hobi saya sejak jaman kuliah dulu sehingga belajar memencet shutter di sebuah kamera Nikon FM10 yang kalau mau mengatur fokus maka kita harus menyatukan antara garis atas dan bawah menjadi tantangan menarik bagi saya yang masih awam di dunia fotografi. Dari mulai film hangus sampai salah memasang roll film semuanya menjadi hal menarik yang sering membuat gelak tawa dan ejekan lucu dari semua teman-teman pecinta fotografi.

Bagi anda yang baru pertama kali mengunjungi blog ini maka keberadaan JWP atau Jogja Wedding Photographer ini sendiri berawal dari acara duduk-duduk santai saya dengan ketiga sahabat dan fotografer hebat bernama Alvin Fauzie, Gde Wira, dan juga Wijoseno di sebuah cafe di kawasan Pakuningratan bernama Saka Patat, maklum mas Gde ini suka banget sama yang namanya minum Bir sehingga saya masih ingat pada waktu itu dia langsung memesan sebotol Corona ketika sedang mengobrol dimana semua ini kami lakukan dari nol dan bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahim bagi para wedding photographer di area Jogja dan sekitarnya.

Apakah Passive Income itu Ada?

Tidak!!!

Jika anda mengartikan secara mentah bahwa passive income adalah uang yang tiba-tiba datang pada saat anda tidur tanpa perlu melakukan apa-apa maka passive income tidak akan pernah ada. Berita buruk dari hal ini adalah anda mutlak harus melakukan berbagai upaya yang terkadang berujung dengan 3 (tiga) alasan sebagai berikut:

  1. Tidak sempat
  2. Tidak ada modal, dan
  3. Duit saya masih cukup –> ini alasan paling berbahaya!!!

Lalu kenapa wacana tentang passive income ini selalu digembar gemborkan oleh para motivator yang kadang ketika gabung di seminarnya maka kita hanya akan diajarkan untuk lompat-lompat kemudian men-sugesti diri sendiri sampai nangis-nangis dan jawabannya adalah, ini adalah ladang bisnis bagi para motivator tadi.

Tentu sah-sah saja karena bisnis adalah tentang menangkap peluang, seperti layaknya anda melihat ada orang yang butuh difoto maka anda jadi fotografernya, kalau dalam bahasa keren maka disebut “Takes Two to Tango” dimana uang selalu akan datang ketika ada 2 (dua) hal yaitu problem dan solusi.

Jika anda pernah membaca buku karya Robert T. Kiyosaki khususnya bagian Cahsflow Quadrant maka anda harus tahu dulu bahwa pekerjaan anda sebagai fotogafer ini berada pada zona “S” atau Self Employee dimana didalamnya terdapat para profesinal lainnya seperti dokter, gitaris, musisi, fotografer, arsitek yang mana mereka-mereka ini Akan Dapat Uang KALAU BEKERJA. Beberapa profesional akhirnya mulai memasuki dunia bisnis dan investasi dimana alih-alih mereka bekerja untuk uang maka yang kali ini kondisinya dibalik menjadi uang yang bekerja untuk mereka.

Ketiga sahabat saya di atas (Alvin, Gde, dan Seno) adalah contoh para fotografer yang mulai memasuki dunia bisnis dimana mereka punya studio atau usaha yang akan terus menghasilan uang ke kantong sekalipun mereka sedang nonton bioskop Trans TV sambil bikin indomie rebus lengkap dengan telor dan potongan cabe rawit.

Karena saya adalah tipe fotografer yang berbeda dari ketiga sahabat saya tadi maka ijinkan saya berbagi pengalaman tentang cara mendapatkan pasive income bagi fotografer yang tipe-nya adalah ‘single fighter’ alias ga’ punya studio seperti saya.

Apakah ini salah? tentu tidak tapi anda harus tahu betul caranya!

5 Cara Mendatangkan Passive Income Untuk Fotografer Yang Bertipe Single Fighter

Pada tahun 2010 saya mengorbankan uang 7 juta rupiah terakhir yang dimiliki oleh Mamah saya untuk mengikuti sebuah kursus bertema Internet Marketing di Jakarta yang dibawakan oleh seorang berkebangsaan Singapura bernama Fabian Lim.

Guru saya ini dulunya adalah seorang pemain piano paruh waktu di bandara Changi Singapura yang kemudian menjadi salah seorang milyarder yang mendapatkan uang ribuan dollar setiap harinya hanya dengan bermodalkan website dan sambungan internet. Dari uang inilah kemudian dia akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah pesawat single piston Columbia 350 dan beberapa tahun berikutnya ditukar dengan sebuah private jet bertipe Eclipse 500 yang dipakainya untuk berkeliling dunia.

Fabian dan Keluarganya di depan private jet miliknya Eclipse 500

Dari 2 hari seminar di Jakarta dan tambahan 1 hari di Singapura maka ada beberapa inspirasi yang bisa saya bagikan kepada anda semua para teman-teman JWP di sini sehingga bisa memberikan inspirasi dan wawasan agar mulai dipikirkan tentang cara-cara untuk mendatangkan passive income bagi fotografer.

Kekurangan dari profesi bertipe Single Fighter Photographer seperti saya ini adalah, “Kalau Motret Dapet Duit, Kalau Ga’ Motret Ya Makan Angin”

Karena itu saya berpikir keras tentang bagaimana menyiasati keadaan single fighter ini agar bisa seperti teman-teman lainnya yang bisa mendapatkan uang sekalipun tidak sedang memotret.

Saya akan berusaha se-terbuka mungkin dalam memberikan wawasan di sini agar anda semua tahu apa yang bisa dikerjakan, bagaimana potensi uangnya, serta seberapa berat hal ini mutlak harus dilakukan khususnya bagi anda yang tertarik.

1 – Menulis Review Tentang Hotel Yang Pernah Saya Pakai Untuk Menginap Selama Pemotretan

Saya perlu sampaikan bahwa saya memfokuskan layanan pada destination wedding dimana saya meng-interpretasikan niche ini secara mutlak sehingga 80% client saya bisa dipastikan adalah orang bule. Kekurangan dari niche fotografi ini adalah marketnya yang sangat segmented karena itulah saya terlihat banyak nganggur karena rata-rata saya hanya memotret sekiar 3 client/tahun dengan rate yang berkisar antara $2500 s.d. $5500 per client. Keuntungannya adalah saya memiliki banyak waktu luang dimana di dalam kesenggangan inilah saya banyak menulis di blog Bimaadhitya.com tentang dunia pernikahan, fotografi, dan liburan.

Salah satu penghasilan saya dari blog sederhana ini adalah komisi dari reservasi hotel yang pernah saya pakai ketika sedang memotret. Selama ini saya bekerja sama dengan Agoda dimana saya mendapatkan kisaran 4% dari setiap reservasi yang dilakukan melalui link saya, screenshots-nya ada di bawah:

Anda bisa juga mendaftar sebagai affiliate-nya Agoda secara gratis dimana pencairan uangnya hanya bisa dilakukan ketika anda sudah mencapai threshold atau batas minimal yang ditetapkan yaitu $200. Perhitungan potensinya sbb:

  • Jika ada orang menginap di hotel tempat saya memotret di Maldives yang permalamnya $500 maka saya akan dapat 4%-nya atau $20/malamnya
  • Rata-rata orang ke Maldives itu menginap hingga 3 malam artinya saya bisa menghasilan $60 secara passive untuk setiap tamu yang memesan hotel menggunakan link affiliate saya.

2 – Menjualkan Stok Foto anda di Microstock Photo Agency

Berawal dari pertemuan saya dengan Misbachul Munir di tahun 2017 saya diajarkan untuk mulai menjualkan ‘foto-foto sampah’ saya di Shutterstock sehingga file yang tadinya cuma memenuhi hard disk bisa mulai di-monetize untuk dijadikan passive income machine. Penghasilan paling kecil yang saya dapat di Shutterstock adalah $0.25/download dan paling besar di angka $8.80/download. Selain Shutterstock ada juga platform lain yang saya rekomendasikan yaitu 500px dimana sebuah foto saya pernah laku di angka $86/download.

Kelebihan Shutterstock adalah traffic pengunjungnya banyak sehingga setiap hari foto saya bisa laku terjual. 500px membeli foto saya dengan angka yang lebih besar tapi traffic penjualannya sedikit. Sengaja saya tampilkan nominal angka di penjualan Shutterstock ini agar anda bisa mulai paham potensi setiap foto yang dijual. Rata-rata penghasilan saya di Shutterstock masih tergolong kecil yaitu $5 s.d $8 per bulannya atau 100 ribu/bulan tapi selama income-nya passive maka saya akan tetap perjuangkan hal ini.

Kebanyakan teman-teman fotografer di Indonesia enggan menampilkan data earningnya bisa jadi karena malu, merasa cuma dapat recehan atau mungkin merasa masih newbie. Menampilkan screeshots adalah hal biasa di dunia digital marketing karena kita berbisnis itu ujung-ujungnya pengen tahu duitnya dapet berapa karena itu khusus untuk menekuni niche microstock ini saya lebih memilih untuk bergabung dengan komunitas yang ada di Thailand daripada yang di Indonesia.

Di komunitas luar negeri para fotografernya lebih terbuka dan semua sama-sama saling menghargai. Dari yang mulai dapat $0.25/download setelah 6 bulan lamanya menunggu sampai yang sudah berhasil menjualkan satu fotonya senilai $1500 kita semua saling memberikan penghargaan. Hasilnya komunitas di Thailand ini membernya banyak sekali yang dari luar Thailand, ada fotografer dari Itali yang penghasilannya sudah mencapai $15,000/bulan sampai dia sengaja membuat sebuah production house kecil khusus untuk membuat stok foto dan video yang dijual melalui Shutterstock

3 – Menulis dan Menjual Ebook

Sejak 2013 sampai sekarang saya aktif menulis beragam jenis ebook melalui blog saya sendiri maupun menggunakan Google Play Store hingga saat atikel ini ditulis saya sudah memiliki sekitar 24 ebook dengan beragam jenis bahasan seperti fotografi, hospitality, kuliner, dan juga traveling. rata-rata ebook yang saya jual berkisar di angka Rp. 85.000 s.d. Rp. 200.000 dimana kalau pembeli langsung membelinya dari website maka hampir 100% uang masuk ke rekening saya. Tapi kalau pembelian dilakukan melalui Google Play Store maka saya mendapatkan royalti sebesar 52% dan sisanya adalah milik Google.

Berikut adalah screenshots ebook-ebook saya:

Ebook Fotografi dan Hospitality
Ebook tentang kuliner dan traveling

4 – Membuat Tutorial Photoshop

Upaya ke 4 yang rutin saya lakukan adalah merekam kegiatan saya ketika melakukan proses editing kemudian diselipi obrolan-obrolan berupa audio tentang tutorial menggunakan Photoshop. Tutorial mengedit foto dengan Photoshop ini saya jual antara $2 hingga $5 setiap downloadnya adapun ada juga yang bundling berisi beberapa tutorial sekaligus yang saya jual seharga $10 – $15.

Anda bisa melihat thriller video tutorialnya di bawah ini, tutorial yang saya bawakan sebenarnya sangat sederhana cuma karena ilmu-ilmu ‘ringan’ seperti ini sangat diakui oleh dunia luar maka saya secara sengaja menjualkan tutorial ini untuk para fotografer dan penghobi foto di luar negeri.

Dalam menjualkan tutorial Photoshop ini saya menggunakan sebuah Platform bernama Payhip dimana mereka akan memotong sekitar 5 s.d. 10% setiap penjualan dan sisanya adalah royalti bagi seniman yang memilikinya.

5 – Menyewakan Kamar Nganggur Anda di Airbnb

Saya ini suka sekali traveling bersama Nina istri saya karena sejak jaman pacaran dulu kita sering iuran berdua masing-masing 50 ribu untuk pergi ke Solo menggunakan kereta prameks dan jajan makanan lokal seperti Timlo Sastro dan juga Serabi Notosuman. Hingga setelah kami menikah di tahun 2010 kami berdua aktif melakukan aktivitas traveling ke luar negeri baik untuk keperluan bisnis fotografi dan juga liburan keluarga.

Satu hal yang menginspirasi saya adalah sebuah cerita tentang Nabi Muhammad SAW yang ternyata di umur 12 tahun dia sudah berdagang ke seluruh jazirah arab artinya Muhammad kecil ini adalah juga seorang traveler handal. Jika anda meng-imani keberadaan nabi Muhammad maka anda bisa mengikuti kebiasaan beliau dalam hal traveling ke luar negeri selain juga dari cara beribadahnya.

Dari kegiatan liburan ini kami mulai mencoba menginap di beberapa hotel dari yang mulai kelas melati seperti Marrigold Hostel di daerah Tsim Sha Tsui Hong Kong seharga 900 ribu/malam sampai dengan bintang 5 seperti di Venetian Resort Macau seharga 4 juta/malam, intinya adalah kami “lupakan sejenak” masalah uangnya dan fokus ke menikmati pengalaman menginapnya karena saya percaya di sinilah nanti potensi uang tanpa batas itu akan datang.

Dari menjajal satu hotel ke hotel lainnya saya mulai terpikir untuk menginvestasikan uang hasil memotret saya untuk membuat sebuah hotel hingga akhirnya di tahun 2013 saya membuka properti airbnb pertama saya di rumah saya sendiri. Saya mulai menyewakan kamar nganggur di rumah seharga $12/malam dimana hal ini lambat laun menjadi salah satu future investment perusahaan fotografi saya. Hingga saat artikel ini saya tulis saya sudah menjalankan bisnis hospitality ini dengan bermodalkan 3 rumah milik keluarga.

Boma House 2013 – Ada 2 kamar yang saya jual seharga $12/malam
Regol Ijo 2014 – Ada 3 kamar yang saya jual seharga $20/malam
The Chendela & Sapulu Coffee 2018 – Ada 7 Kamar yang saya jual seharga $29/malam dan dilengkapi dengan cafe kecil untuk 20 orang

Kesimpulan

Setiap kita punya hak masing-masing untuk menjalankan bisnis sesuai passionnya, jika jaman dulu hanya para pengusaha kelas kakap saja yang boleh punya uang banyak maka saat ini profesional fotografer seperti andapun berhak dan berpotensi punya uang yang berlimpah dari passion yang anda lakukan.

Seorang Richie Sambora, mantan gitarisnya Bon Jovi masih aktif ngeband dari panggung ke panggung dan berpenghasilan kisaran $3.000.000/tahun dimana dia juga mendapatkan royalti dari lagu-lagunya yang diputar di Spotify maupun download di beberapa playstore artinya seorang musisi sekalipun berhak punya uang milyaran rupiah di kantongnya selama dia memiliki mindset yang benar dalam menyikapi uang. Saat ini Richie memiliki kekayaan hingga $100 juta di dalam rekening dan aset propertinya.

Andapun yang sedang membaca artikel ini punya hak yang saya dengan para fotografer di kota besar maupun di luar negeri. Prinsipnya adalah selalu berinovasi dan berpikir maju ke depan tentang dunia yang sedang anda lakukan saat ini. Saya berharap artikel ini bisa bermanfaat untuk anda semua sehingga mulai terbuka wawasan baru tentang bagaimana mendapatkan passive income dari pekerjaan sebagai fotografer yang anda lakukan selama ini.

Cheers,

Bima adhitya